REGRET

Namaku Tsaqiif, umurku 12 tahun, aku tinggal di keluarga yang berkecukupan. Aku memiliki 2 orang adik, Nabil dan Halimah, mereka berumur 9 tahun dan 6 tahun. Ayahku seorang tukang becak dan ibuku seorang penjual gorengan keliling.

Aku memang miskin, pendapatan ayahku satu harinya kurang lebih Rp60.000, terkadang pendapatan ayahku seharinya hanya mencapai  Rp25.000. Aku pernah mengikuti ayahku menarik becak, perorangnya mereka memberi 3.000 rupiah paling banyak pada ayahku, padahal jarak yang cukup jauh dan panasnya terik matahari atau guyuran hujan menurutku tidak sepadan dengan harga Rp3.000 itu. Pendapatan ibuku lebih sedikit dari ayah, seharinya ibu bisa menjual kurang lebih 50 gorengan, 50 dikalikan dengan 500 rupiah ialah 25.000 rupiah. Memang ibu tidak membuat gorangan banyak karena modal yang pas-pas-an. Jadi jika dijumlahkan pendapat ibu dan ayah ialah 85.000 per hari. Terkadang aku dan adikku Nabil membantu orangtua kami dengan mencari cacing di sawah, pendapat kami dalam satu hari hanya 5.000 rupiah, aku suka membagi tiga hasil itu dengan adik-adikku, memang tidak banyak namun aku bersyukur bisa mendapatkan uang tambahan hasil tenagaku sendiri.

Terkadang aku benci ayahku, aku benci ayahku karena miskin dan jika besar nanti aku tidak ingin menjadi seperti dia, jadi aku belajar dengan giat agar aku bisa mendapatkan beasiswa lalu pekerjaan yang lebih layak dari ayahku. Aku juga tidak mengerti dengan ayahku, kami miskin, tapi ayahku selalu mementingkan orang yang membutuhkan dibandingkan kami, padahal kami sendiri sangat membutuhkan uang itu. Terkadang ayah selalu memberi sepertiga penghasilannya pada pengemis atau orang yang sakit di sekitar kampung. Aku tidak pernah menjadikan ayahku sebagai inspirasi, yang ada dipikiranku hanyalah aku tidak ingin menjadi seperti dia.

Aku melihat keadaan teman-temanku yang lebih baik daripada aku, mereka punya tas dan sepatu yang baru tiap tahunnya. Mereka selalu membawa bekal uang di sekolahnya, sedangkan aku hanya dibekalkan satu botol minum saja, begitu juga dengan adik-adikku.

Keadaan kami memang begitu menyedihkan, suatu ketika di hari idul fitri kami ingin bersilaturahmi dengan keluarga kami yang berada di kamupung berbeda, ayahku memang memiliki sepeda motor tua yang hanya cukup untuk ayah, ibu, dan kedua adikku, sedangkan aku? Aku menggunakan sepeda kumbang yang diberikan oleh saudaraku sewaktu dulu, diikatkannya sepeda itu pada motor dengan tali yang cukup panjang. Ayahku bermaksud agar aku tidak usah cape mengayuh sepeda ke kampung lain. Jalanan menuju kampung yang memang tidak layak membuatku harus ekstra hati-hati, ketika jalanan berbelok dan menurun aku terjatuh di antara banyak orang-orang sedang terjebak macet. “Bapa!!!” aku berteriak sekeras mungkin pada ayahku, banyak orang yang ikut berteriak dan menolongku pada saat itu, aku merasa malu dan benci pada ayahku.

Aku mulai memasuki masa-masa SMA, aku memilih masuk SMK orangtuaku memilih SMK agar aku bisa langsung kerja. Aku masuk jurusan teknik mesin, di sana aku belajar banyak. Aku terus belajar giat, aku ingin masuk kuliah dengan beasiswa, tapi orang tuaku menolak, mereka inginkan aku langsung masuk kerja, agar aku bisa membantu mereka membiayai adik-adikku yang masih sekolah. Dan lagi aku benci keadaan ini. Saat SMA memang aku sudah mengerti seharusnya aku tidak membenci keadaan keluargaku yang miskin ini, tapi aku ingin seperti anak-anak lain yang melanjutkan belajarnya ketingkat yang lebih tinggi. Aku tidak putus asa, aku terus belajar agar aku bisa mendapatkan beasiswa, aku menyangkal saran dari ayah dan ibuku.

Alhasil, aku mendapatkan beasiswa di insitut negeri ternama di kota Bandung,orangtuaku tidak senang aku mendapatkan beasiswa, menurutnya jika aku kuliah maka pengeluaranku akan lebih banyak dan mereka akan kesulitan membiayai anak-anaknya. Aku mendapatkan beasiswa hanya untuk kebutuhan kuliah, tidak dengan biaya hidup. aku tidak perduli, untuk menuju kampus aku bisa menggunakan sepeda tua dan membawa air minum saja, aku kuat dengan itu. Selain itu aku bekerja paruh waktu di suatu perkantoran, ini cukup untuk membiayai keluargaku.

Ibuku meninggal saat aku sedang menyusun skripsi, ibuku terkena penyakit tubercolosis. Saat itu aku tidak bisa membiyai pengobatan ibuku, namun beberapa warga kampung ikut membantu memberikan kami obat penahan rasa sakit, tapi itu kurang membantu. Dan lagi aku merasa kesal dengan keadaan keluargaku. Aku tau ini cobaan dari Allah, tapi aku sulit menerimanya ini terus menerus secara berangsur. Aku berfikir kapan aku bisa selesai dengan semua permasalahan ini?

Ayahku selalu berkata “tidak ada hal yang lebih baik dibandingkan dengan bersabar”, aku memang selalu bersabar menahan semua amarah ini, tapi aku tidak pernah mendapatkan hasilnya atau balasannya.

Kali ini aku menjadi sarjana S1, suatu kebanggaan buatku dan ayahku tentunya dengan almarhum ibuku. Aku bekerja di perusahaan besar, aku ditugaskan di Kalimantan. Ketika aku akan berangkat ayahku menawari uang, “ambil saja, hubungi aku jika kamu butuh lebih”, aku menolaknya, aku tau adik-adikku lebih membutuhkan ini dibandingkan aku.

Tiga hari sebelum idul fitri tiba ayahku menelepon, dia bertanya apa aku bisa pulang ke rumah, tapi aku tidak bisa karena aku terlalu sibuk dan pikiranku sangat buyar, aku tidak ingin menaiki sepeda yang ditalikan lagi. Ayahku berkata lagi di telepon “Kali ini kamu tidak usah bersilaturahmi dengan keluarga yang berada di kampung lain dengan sepeda yang ditalikan, kamu tidak perlu terjatuh lagi” terdengar sedikit isak tangis ayahku. Aku tetap menolaknya.

Esok harinya aku mendapatkan telepon dari adikku Halimah, ayah meninggal. Begitu jelasnya, aku langsung kembali ke Bandung. Aku tidak tahu jelas apa sebab ayah meninggal, ayah terjatuh begitu saja. Ketika aku sampai di rumah, adikku Nabil menampar pipiku tiga kali. “Apa kamu merasa sakit?” tanya Nabil sambil menangis. Aku terdiam tidak menjawab apa-apa. “Jika kamu tidak merasa sakit apa perlu aku menamparmu sekali lagi?” teriak Nabil. “Kenapa kamu ga pulang?” dan lagi suara Nabil meninggi. Aku tidak sempat menjawab pertanyaan yang itu, Nabil menyagnkal dan berkata lagi “apa kamu lihat mobil tua yang ada di depan rumah itu? AYAH MEMBELIKAN ITU BUAT KAMU! AGAR KAMU TIDAK USAH MENGGUNAKAN SEPEDA LAGI SAAT BERSILATURAHMI KE KELUARGA! Tapi kenyataannya, kamu menolak untuk pulang. Kamu tau apa yang dirasakan ayah? Sakit rasanya, melebihi sakitnya kamu ditampar olehku” Tegas Nabil padaku.
Aku sungguh menyesal, sangat menyesal.

Pada saat malam takbiran aku tidur di kamar ayah dan aku membuka box kecil yang terdapat di bawah kasur, ada dua kertas dibaluti amplop bertuliskan “untuk Tsaqiif yang ayah cintai”.

SURAT 1

31 Mei 2014
Kali ini ayah merindukan Tsaqiif dan ibu, ayah selalu berdoa agar Tsaqiif selalu berada pada lindungan ALLAH SWT, dan juga ibu yang diterima di sisi-Nya. Apa kabar Tsaqiif? Bagaimana dengan kantormu? Apa kamu senang menjadi anak yang tidak seperti ayahnya? Susah dan sulit membiayai dirinya sendiri? Ayah sangat bersyukur bahwa kamu bisa menggapai cita-citamu. Ayah sangat bangga padamu. Maafkan ayah yang selama ini selalu mebuatmu kesulitan, saat sekolah kamupun harus bekerja paruh waktu agar bisa membiayai keluarga kecilmu ini. Kamu tau kunci kesabaran itu sangat berarti, dari sabar Allah membalasnya dengan hal yang sangat kecil sekali, seperti saat idul fitri banyak orang yang menolongmu saat terjatuh dari sepeda, saat ibu sakit banyak orang-orang yang membantu. Tidak lupa juga selalu berbagi di saat kita susah, ingat menjadi kaya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki tapi seberapa banyak kita memberi.
Ayah sudah berusaha mencari uang lebih agar bisa membelikan mobil untuk kita, untuk kita bersilaturahmi dengan keluarga lain agar kamu tidak usah menggunakan sepeda lagi. Alhamdulillah banyak rezeki yang ayah terima dari Allah, karena ayah tau Allah selalu membalas perbuatan kami maupun yang buruk ataupun yang baiknya. Memang mobilnya harganya murah, tapi pasti akan berguna buat kita semua. Doakan agar ayah bisa membelikan mobil untuk kita.

SURAT 2

25 Juli 2014
Tsaqiif yang ayah cintai, 3 hari lagi menuju lebaran, ayah sangat menunggu kedatanganmu nak. Alhamdulillah ayah sudah bisa membelikan mobil buat kamu, walaupun mobilnya masih perlu dicicil, ayah membelinya di toko mobilnya Mang Rohmat, untung Mang Rohmat memberikan ayah diskon walaupu tidak besar. mobilnya memang tidak sebagus mobil-mobil sekarang, tapi ayah tidak sabar untuk menunjukkan mobil ini padamu nak. Semoga kamu bisa pulang, ayah sangat merindukanmu.

Aku menangis dan sungguh menyesal, aku menyesal bahwa aku sedari dulu membenci keadaan ayahku yang miskin. Aku salah. Tidak seharusnya aku membenci orangtuaku, tidak seharusnya aku seperti ini. Aku sungguh menyesal, andai aku tahu akhirnya akan seperti ini..... ini balasan buatku karena selama ini aku telah jahat kepada kedua orangtuaku, aku tidak pernah melihat sisi baiknya dari kedua orangtuaku, yang aku lihat hanyalah kemisikinan dan keterpurukan kami selama ini.

Malam itu juga Halimah menghampiriku dan dia bercerita sedikit tentang ayah, konon ayah dari pagi hingga sore menarik becak dan malamnya ayah menjadi satpam kampung, memang tidak banyak penghasilan ayah, tapi ayah masih sempat menabung untuk membeli mobil itu,  terkadang ayah juga menggantikan pekerjaanku sebagai pencari cacing, jika ada waktu juga ayah berjualan gorengan, ayah jarang sekali berada di rumah, Halimah dan Nabil tidak tahu apakah ayah makan atau tidak, apakah ayah tidur atau tidak untuk membahagiakan anak-
anaknya.

Ayah terjatuh jelas Halimah singkat. Aku bertanya, mengapa ayah bisa terjatuh? Halimah mulai menjelaskan, “setelah mendapatkan kabar bahwa kamu tidak bisa pulang ayah menangis dan meminta Nabil untuk menarik sepeda menggunakan motornya, ayah menaiki sepeda itu dan ayah juga menyuruh Halimah untuk ikut menaiki motor dengan Nabil. Halimah tau ini hal bodoh, Halimah sama Nabil mencoba untuk menolak permintaan ayah tapi ayah terus saja ngotot, menurutnya ini bisa membalas rasa sakitmu pada saat kamu terjatuh di tahun itu. Ya sudah, Halimah sama Nabil menuruti permintaan ayah, kita jalan ke kampung lain, melewati jalan berbelok dan menurun itu, ayah terjatuh tepat di tempat saat kamu terjatuh saat itu, sayangnya ayah tidak seberutung kamu, kepala ayah terbentur batu, dan dengan terbenturnya itu ayah meninggal”.
-----SELSAI-----

Cerita ini terinspirasi dari beberapa kejadian, sewaktu Nadila mudik, Nadila melihat keluarga yang mudik dengan motor dan sepedanya ditarik dengan motor, Nadila ingin menangis melihat keluarga itu, memang anak itu terjatuh di jalan berbelok dan turun.
Pekerjaan ayah, pekerjaan ayah yang dari pagi hingga sore menarik becak dan malamnya menjadi satpam kampung, ini Nadila lihat di komplek Nadila, memang ada tukang becak langganan Nadila yang bekerja seperti itu, selain itu terkadang mang becak itu menjadi kuli bangunan.


Selebihnya Nadila membuat cerita ini murni dari pikiran Nadila sendiri, semoga yang baca menjadi terinspirasi, ingat ambil yang baiknya jangan yang buruknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

THINGS I'VE LEARNED IN LIFE

AND IF I DIE - NADIF EDIE DOING THIS FOR FUN, WHO IS NADIF EDIE THO?

SURAT TANPA AMPLOP UNTUK NADILA