TAKDIR
Bercerita tentang takdir, semakin banyaknya waktu kosong yang saya miliki, semakin banyak pula pikiran yang sama sekali tidak pernah terlintas oleh saya. Sekarang saya memikirkan tentang takdir. Takdir, takdir, dan takdir yang terus melintasi pikiranku. Orang-orang percaya bahwa kita hidup di dunia ini karena takdir, kita meninggal kelak karena takdir, kita bisa bercengkrama dengan kawan lama di sebuah restoran karena kita sudah ditakdirkan untuk bertemu mereka di restoran.
Saya merupakan orang yang percaya
bahwa semuanya sudah ada di dalam rencana Tuhan, bagiku tidak ada yang
kebetulan. Hal kecil saja seperti bertemu dengan kasir yang menyebalkan itu
sudah direncanakan oleh Tuhan, mungkin orang tua akan berkata “biarlah kasir
itu menjadi penghapus dosa untuk kita”, mungkin ya mungkin tidak. Namun ada
satu hal yang membuatku terus berpikir mengenai takdir. Bercerita mengenai pengalamanku
dulu, saya pernah jatuh cinta pada teman sekelas saya hingga bertahun-tahun,
saya sungguh mengaguminya dan saya sangat senang jika berada dekatnya. Suatu hari
saya bercerita pada kawan saya, Dana, saya bercerita kepada Dana betapa saya
sangat mengaguminya sampai saya sangat ingin meremas jantung saya. “Tapi ya
mungkin memang saya tidak ditakdirkan bersamanya Dan” kataku mengeluh pada
Dana.
Setelah bertahun-tahun berfikir dan
memendam rasa di dalam gelap, tiba-tiba cahaya datang begitu saja, cahayanya
kecil seperti cahaya pada senter yang sekarat. Saya berpikir, sepertinya lebih
baik saya menyatakan cinta padanya hari ini juga. Lalu saya pergi ke rumahnya,
saya ingat saat itu sudah malam dan sedikit hujan. Saya menanyakan apakah dia ada
di rumah, padahal saat itu saya sudah di depan rumahnya, lalu takdir berkata “saya
lagi ga di rumah Nad”. Baik, saya urung niat saya dan kembali ke rumah. Saya berfikir
bagaimana jika takdir mengatakan “ya saya sedang ada di rumah, ada apa?”, apa
jadinya saya dan dia sekarang? Apakah semakin dekat atau bahkan semakin menjauh
atau sama seperti sebelumnya. Baiklah lagi-lagi saya merasa memang tidak
ditakdirkan dengannya hanya karena dia sedang tidak ada di rumah.
Berbulan-bulan berlalu, saya mulai
berpikir lagi dan bercerita pada Dana, “Dan, saya mau bilang kalau saya suka
sama dia”, namun ada hal yang berbeda dari saya. Ketika saya berkata demikian
pada Dana, saya sudah memutuskan secara bulat bahwa niat saya menyatakan cinta hanya karena saya ingin dia tahu bahwa saya
memang suka dia sejak lama hingga saat ini, saya tidak peduli jawaban dia,
apakah dia suka dengan saya atau tidak, at least he knows. Saya ingin
menantang takdir dan mempertanyakan lagi pada Tuhan apakah dia memang tidak
ditakdirkan untuk saya. Menyatakan cinta saat itu sedikit rumit bagi saya
terlebih posisi saya dan dia tidak dalam status pendekatan. Saya menyuruh Dana
untuk menyampaikan pesan ini, ya saya memang payah sangat payah.
Tidak ada respon sama sekali dari
dia, responnya pada Dana hanya sedikit, namun padaku? Tidak ada sama sekali,
pada titik ini lah saya sangat yakin kalau dia memang tidak ditakdirkan untuk
saya, atau mungkin kah ada kesempatan Tuhan? Hah, saya memang hamba Tuhan yang gemar
menawar-nawar takdir. Ada suatu hal yang membuat saya lega untuk menerima bahwa
dia tidak ditakdirkan untuk saya, hal tersebut ialah dengan memberi tahu bahwa
saya menyukainya. Rasa lega dan tenang pada dada ini lebih baik dibandingkan
jika saya terus memendam dan percaya “takdir” belaka tanpa mencoba. Apakah
kalian mengerti maksudku?
Contoh sederhana, anggap saja saya
sangat ini bekerja di PT. AAA, saya tahu PT. AAA merupakan perusahaan yang
besar. Lalu tanpa mencoba saya berkata “kayaknya
memang saya mah tidak ditakdirkan
bekerja di PT. AAA”, berbeda rasanya jika kita mencoba melamar, mengikuti
serangkaian tahapan rekrutmen, dan pada suatu tahap saya dinyatakan tidak
berhasil bekerja di PT.AAA, lalu saya berkata lagi “saya memang tidak
ditakdirkan bekerja di PT.AAA”, rasanya sungguh berbeda karena setidaknya saya
sudah mencoba.
XOXO, Nadila
Komentar
Posting Komentar