LIMA GADIS BERKOMPETISI
Dalam satu meja bundar lima gadis berbincang, namun tidak ada kata 'mendengar' diantara mereka.
![]() |
| Maaf tidak menemukan gambar lima gadis di meja bundar hehe |
Gadis satu selalu menunjukan kepintarannya, "Kadang aku aneh dengan orang yang tidak suka membaca. Maksudku, membaca itu asyik, selera mereka rendah sekali", katanya seraya suara dalam pikirannya berbisik "aku ingin mereka melihatku sebagai orang yang intelegen".
Lalu gadis dua tertawa kecil sambil menyeruput brown sugar bobanya, "Aku sih suka baca, tapi baca komik anime, aku ga suka sama kisah romantis yang menye-menye, ewww itu hanya membuat aku ingin muntah". Dia sangat berpikir bahwa menjadi 'perempuan yang berbeda dari perempuan yang lain' adalah sesuatu yang keren dan menjadikannya suatu manusia yang jarang ditemukan.
Kesunyian pun mulai berteriak ketika mereka memikirkan apa yang harus mereka katakan dan menunggu giliran siapa yang harus bicara.
Saatnya gadis tiga menunjukan kelebihannya, "eh eh liat deh si Kinan sama pacarnya tuh kayanya tiap hari pacaran mulu sampai terus posting di instagram story. Aku sih ga apa-apa ya, cuman kaya yang kurang dewasa banget ga sih apa-apa kalau lagi pacaran posting mulu" gadis tiga menunjukan gawainya kepada gadis lainnya. Egonya mulai berteriak "lihat nih aku merupakan orang yang dewasa".
Keadaan mulai memanas ketika mereka mulai membicarakan orang lain. Gadis empat mulai merespon dengan pedasnya "halah baru juga pacaran 3 bulan masih anget, tempat nongkrongnya juga biasa kaya gitu, aku kalau pacaran sama pacarku tuh ga pernah tuh makan di tempat kaya gitu, soalnya kadang aku males gitu loh ke tempat yang panas kaya gitu". Gadis empat menunjukan bahwa dirinya sangat berkelas dan ingin gadis lain mengetahui itu.
Lalu gadis terakhir, gadis lima. Energi dia begitu terkuras ketika memikirkan apa yang mereka katakan. Pikiran negatifnya berlayar dari talamus hingga hipokampus, membuatnya merasa emosi dengan apa yang suara gadis lain buat juga suara yang ada di dalam pikiran gadis ke-lima. Dia terlalu berpikir dengan seluruh energi negatif yang mengalir di dirinya. Dia enggan mendengar karena dia merasa bahwa dia lah yang paling benar, paling tahu, paling bisa, dan paling menang.
Bagi mereka hidup ini merupakan suatu kompetisi.
Bagi mereka tanggapan orang lain terhadap dirinya harus dibuktikan dengan kata-kata, tidak dengan aksi.
Bagi mereka usaha untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain perlu dilakukan untuk mendapatkan atensi.
Bagi mereka segalanya adalah tentang aku, aku, dan aku, tidak ada artian altruisme, hal tersebut hanya untuk memberikan makan pada sebuah ambisi.
Xoxo, Nadila

Komentar
Posting Komentar