EMPAT KALI PIALA DUNIA
Afrika Selatan
"La, masa aja dari sepanjang jalan aku denger lagu Waka Waka mulu, terus sekarang kamu dengerin juga lagu ini", masih ingat sekali aku dan Lala duduk di sofa ruang tamu rumah Lala sambil mendengarkan lagu ini. Muak sekali mendengar lagu ini di dua angkutan kota yang berbeda, dari angkot jurusan Kalapa - Buah Batu, hingga angkot jurusan Buah Batu - Dayeuh Kolot.
Lala sedikit menggoyangkan bahunya disesuaikan dengan irama lagu Waka Waka. Aku tertawa sedikit sambil melihat pipinya yang merah, tidak pernah berhenti aku memikirkan beruntungnya aku memiliki Lala yang memilih mendengarkan lagu Waka Waka ketimbang memainkan recorder dari hidungnya.
"Okay, kalau kamu bosen aku ganti lagunya pakai lagu Wavin' Flag iklan Coca Cola nih", kata Lala sambil mengganti musik di ponsel SonyEricsson W902 miliknya. "Kamu tau ga? Setiap aku dengerin lagu ini bawaannya inget kamu terus".
"Kamu mah emang inget aku terus mau denger lagu itu atau engga juga".
Menggelikan sekali ceritaku di tahun 2010, bersama Lala di kursi sofa ruang tamunya yang memiliki lampu kuning remang-remang. Aku paling benci dengan warna lampu kuning remang-remang seperti itu, rasanya ingin sekali aku menggantikan bohlamnya dengan warna putih hingga cahayanya terang sekali seperti di Indomaret.
Lala, perempuan pertama yang aku kunjungi rumahnya di masa SMA, bertemu dengan orang tuanya seperti aku memiliki nyali untuk meminta restu kepada mereka. Selalu ada cara untuk bertemu dengan Lala di rumahnya, mengerjakan PR bersama, alasan menonton motogp di TV kabel Lala karena aku benci kuis di tengah-tengah acara motogp. Apa pun itu, selalu saja ada alasan.
Tahun 2010 menjadi tahun yang aku sukai karena Spanyol menjadi pemenang di Piala Dunia Afrika Selatan. Lala dan aku resmi berpacaran. Aku lulus SMA dan melanjutkan kuliah di luar kota bersama Lala. Tidak ada alasan untuk membenci tahun ini.
Brazil
"La La La I dare you" Lala menyanyikan lagu Shakira yang menjadi lagu soundtrack Piala Dunia 2014. Sambil menggenggam sisir berpura-pura sebagai Shakira. Ditengah lagunya Lala berkata "kamu bangga ga nama aku jadi soundtrack Piala Dunia?" katanya sambil melompat-lompat di atas kasur kamar kosnya. "Ya, aku bangga La", jawabku singkat dengan otak yang terbagi antara Lala dan skripsiku. "Udah lah Yas, skripsi itu ga perlu yang susah, yang gampang aja biar kamu ga gila. Tar gue punya pacar setengah gila karena skripsi, gak deh gak mau gue".
Hah... La.... hanya itu yang aku bisa pikirkan tentang Lala ketika dia mengatakan hal tersebut. Rasanya perih sekali menahan tangis ini, aku sedang bersusah payah untuk lulus karena aku tidak ingin jika harus melanjutkan setengah tahun lagi di kampus ini. Biaya yang dikeluarkan tidak lah sedikit, Ayah sudah tidak bekerja, adik-adik masih sekolah. Ingin rasanya menangis, namun katanya laki-laki itu tidak boleh menangis.
Saat final Piala Dunia 2014 aku menontonnya sambil juga menatap layar laptop dengan sub bab analisis yang tak kunjung selesai juga. Sudah kuduga, Jerman akan menang kali ini, Argentina meski menangis dengan kekecewaan setelah mereka berkumpul di locker room. Apa yang harus aku lakukan jika aku menjadi Messi dan harus menelan kenyataan ini? Lupakan Messi, kembali saja kepada skripsiku.
Russia
"Terus ya, gue dikenalin tuh sama semua orang di ruangan itu, di sana gila banget Yas style orang-orang keren banget, ngomong segalanya pakai Bahasa Inggris, Yas. Gue agak grogi, tapi ya ini kan tempat bagus buat gue untuk berkembang daripada tempat sebelumnya" jelas Lala mengucapkan bahwa dia begitu senang dengan tempat kerjanya yang baru. "Gimana hari ini Yas? Ada cerita menarik ga?"
"Hmmm apa ya, gak ada sih La, aku gak suka lagu Piala Dunia yang tahun ini" hanya itu yang bisa aku katakan, tidak banyak cerita seperti yang Lala miliki. Lala itu seperti kumpulan cerpen, selalu ada cerita menarik setiap harinya.
"Kenapa? Karena lagunya Ale Ale Ale ya? Bukan Ala Ala Ala? Hahaha" tawa Lala dengan lawakannya yang tidak aneh dan selalu tidak lucu.
Aku merindukan Lala, baru dua hari lalu aku bertemu Lala, mengantarkannya ke Jakarta tempat tinggal yang dia tinggali mulai saat ini. Aku masih menetap di Bandung, memulai bisnis kos-kosan dengan modal dari hasil kerja 4 tahun bekerja di perhotelan dan tentunya memperoleh uang dari pinjaman bank. Sudah bersama-sama dengan Lala selama 8 tahun, dan baru kali ini aku dan Lala harus menjalani hubungan jarak jauh. Tentu saja ini sangat berat buatku, namun nampaknya ini menjadi angin segar buat Lala.
Tahun 2018 memang penuh kejutan, siapa sangka Kroasia yang melaju ke babak final melawan Perancis? Siapa sangka juga Lala yang tiba-tiba melaju ke pelaminan dengan lelaki yang baru saja ditemuinya 5 bulan setelah dia berpindah ke Jakarta, siapa yang menyangka? Katanya di umur 26 Lala terlalu tua untuk menikah, katanya bisnis ku tidak menjamin kesejahteraan, katanya aku terlalu lama untuk melamar, katanya mengapa tidak menolak jika ada lelaki yang lebih mapan dan siap untuk menikah.
KATANYA, KATANYA, KATANYA. La, persetan dengan katanya. Kalau kau memang mau denganku seumur hidup, kau akan melupakan "katanya". La, aku di sini ga diem loh, aku juga berusaha untuk memulai bisnis, apa lagi alasanmu? Pacaran terlalu lama sama dengan menambah dosa? Ya? Mau pakai alasan apa lagi, La? Orangtua mu dan orangtua ku sudah kenal lama La, keluarga mu dan teman mu juga sudah menjadi bagian dari hidupku. Terus sekarang aku harus pura-pura tidak mengenal mereka dan merasa hal apapun itu yang terjadi di antara kita tidak pernah terjadi?
Tiga kali Piala Dunia La. Messi aja masih main, La. Shakira aja kayanya masih suka nonton itu Piala Dunia meski bukan dia lagi yang jadi penyanyinya. Tahan dikit lagi lah, La. Kamu ga penasaran gitu La lagu Piala Dunia 2022 judulnya mungkin bakal "Ilyas", masa iya kamu mau berhenti La nonton bola sama aku? Kita itu seru kalau bareng La, bisa-bisanya kamu milih orang yang baru kenal 5 bulan dibandingkan aku yang udah 8 tahun barengan.
Lala terdiam.
“Jangan ngomongin Piala Dunia, Yas. Ga nyambung” ucap Lala dengan dinginnya.
“Ya sudah La, ga apa-apa, selamat untuk hidup yang luar biasanya ya La”.
Qatar
Sekarang tahun 2021, biasanya aku sangat menantikan Piala Dunia setahun sebelum di mulai. Tahun ini tidak. Aku tidak perduli dengan tuan rumah, aku tidak peduli dengan lagunya, aku tidak peduli dengan pemain atau siapa pun pemenangnya nanti di tahun 2022. Aku masih memikirkan Lala. Lala sekarang sudah memiliki satu anak perempuan, lucu sekali anaknya sangat mirip dengan ibunya. Terkadang aku masih sering melihat Instagram Lala, aku tidak pernah berbicara dengan Lala lagi, Lala terkadang mengucapkan selamat hari raya dan atau hanya sekedar menanyakan kabar. Tidak, tetap tidak bisa aku untuk pura-pura kuat membalasnya. Aku masih mencintai Lala hingga saat ini. Sangat. Piala Dunia yang ke-empat, tidak ada yang ke-empat, maksudku piala dunia yang pertama tanpa Lala.
Komentar
Posting Komentar